with changmin.
hyunjae hela nafas lega. broadcastnya baru saja selesai semenit yang lalu tanpa ada hambatan, walaupun hyunjae harus mengakui jika tadi tidak ada changmin maka bisa dipastikan narasi serta kemampuan bicaranya akan hancur lebur tanpa pengecualian.
karena sampai sekarang saja pikirannya masih tidak fokus. kalau bisa saja, hyunjae ingin mengulang, ingin buat tadi malam menghilang sehingga hyunjae sama sekali tidak bermimpi apapun tentang lelaki itu.
“hey, hyunjae.” sudah menebak ini akan terjadi. sudah pasti changmin akan memanggil tepat setelah broadcast selesai. hyunjae hanya berdeham, masih sibuk mengurusi kertas narasi yang berhambur di meja sekaligus membenahi pikiran untuk kesekian kalinya.
“gue minta maaf.”
mendengus, hyunjae tidak bisa hitung sudah berapa banyak orang yang mengucapkan kalimat itu. tapi ia tetap menjawab pernyataan changmin, walau masih tidak diberi atensi sepenuhnya.
“untuk apa?”
“uhm, karena telah merebut younghoon dari—” perkataan changmin dipotong langsung oleh hyunjae. “lo gak ngerebut younghoon dari siapapun.”
“tapi—” dipotong lagi. hyunjae benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa changmin salah paham seperti itu.
“changmin.” kali ini tatap langsung di mata, “gue gak marah ke lo karena younghoon.” mata changmin berkedip-kedip bingung. alis mengernyit. seakan jadi tanda untuk hyunjae agar jelaskan alasan sebenarnya.
hyunjae hela nafas untuk kedua kali hari ini. “gue marah karena lo ninggalin gue—gak, gue lebih ke kecewa sih. lo sahabat gue dari lama, dan lo bisa-bisanya acuhin gue gitu aja setelah lo pacaran sama dia.”
changmin diam. dengan begitu hyunjae kembalikan atensinya ke yang awal, menyusun barang yang masih berhambur setelah broadcast. di dalam hatinya, sedikit merasa bersalah telah mengatakan hal tadi ke changmin. tapi mau bagaimana lagi? daripada terus menerus salah paham.
beberapa menit hening. hyunjae sudah selesai merapikan semuanya, pun bersiap untuk keluar, sebelum akhirnya hyunjae bisa rasakan changmin memeluk begitu saja. kaget? jelas. begitu lamanya tidak pernah begini hingga rasanya asing.
“maaf, je.”
dan ya, memang siapa hyunjae untuk menolak permintaan maaf dari sahabat lamanya? mereka akhirnya tertawa berdua, setelah sekian lama. berjalan keluar juga berdua. tapi sebelum benar-benar berpisah, changmin ajak hyunjae untuk makan tteokbokki sebentar— dengan alasan 'hitung-hitung sebagai maafku yang sebenarnya.' toh hyunjae juga tidak akan menolak.
mereka makan di ujung jalan, dengan hening. tapi tidak berlangsung lama. karena beberapa menit setelah makanan mereka datang, changmin mengajukan pertanyaan. “anyway, lo kenapa hari ini?”
“memangnya gue kenapa?”
changmin mengendikkan bahunya. “raga lo kayak gak ada aja tadi. pasti ada yang gangguin pikiran sampai lo gitu pas lagi broadcasting,”
memang changmin ini terlalu peka atau hyunjae yang terlalu transparan?
“ya.. iya, gue dari tadi gak bisa fokus. kepikiran mimpi gue terus.” hyunjae tiup tteokbokkinya, lalu dikunyah pelan dengan nikmati hembusan angin menyentuh rambut berulang kali. sedangkan changmin membuat suara seperti 'heeh?' karena mau bagaimanapun tidak fokus karena suatu mimpi belaka itu aneh.
“mimpi apa emang? mau cerita, gak?”