we lost it
( little note : disini rabu ditulis dengan nama kenjirou, dan ini sepenuhnya tentang kehidupannya yang lalu sebagai angels and demons. )
aku bertemu eita ribuan tahun yang lalu,
kenjirou mengepakkan sayapnya antusias, tidak peduli dengan ibu-nya yang berteriak menyuruhnya untuk kembali turun. hari itu cerah—cerah sekali, menambah rasa senang yang ada dalam hati kenjirou dan keinginan menghirup udara segar sambil terbang.
sebagai seorang malaikat, merasa senang mungkin adalah hal yang biasa. tetapi kali ini, seperti ada sesuatu yang baik akan terjadi, dan mungkin sesuatu itulah yang menarik shirabu untuk pergi ke tempat kesayangannya.
tempat itu— 'the ruins of supreme angel's theatre', terletak lumayan dekat dengan gerbang masuk-keluar surga, sehingga jarang ada yang mau berada atau bahkan mendekati tempat tersebut.
entah kenapa aku selalu suka berada disana, dan hari itu aku tau bahwa itu semua ulah takdir, untuk mempertemukanku dengan eita.
“eeh? aku tidak mengira akan bertemu seorang malaikat disini sendirian,” mendengar kalimat itu, kenjirou berjengit dari duduknya. baru saja menikmati kesunyian selama 5 menit sudah dikacaukan saja. ketika ia menoleh untuk melihat siapa yang berbicara, ia terkejut saat sebuah sayap hitam menonjol di pandangan.
bagaimana—bagaimana bisa? seorang iblis? kenjirou membeku untuk sesaat, tidak percaya lelaki didepannya ini adalah seseorang dari ras yang merupakan musuh bebuyutannya. terlebih lagi, ini kali pertama kenjirou berada dekat bersama seorang iblis selama hidupnya, tentu saja ia kehilangan kata-katanya.
sebelum akhirnya berdeham, “si-siapa kau? kenapa bisa melewati para penjaga?!” itu benar, seharusnya lelaki itu tertahan sebelum memasuki gerbang. kenjirou tidak habis pikir.
“the name's semi eita,” eita tertawa kecil, “tentu saja aku bisa melewati mereka karena yah, bisa dibilang para penjaga itu sahabatku.”
“bohong! malaikat dan iblis tidak mungkin bersahabat, berteman saja tidak bisa!”
perkataan kenjirou fakta, eita malah tersenyum miring. seakan tidak setuju akan perkataan sang malaikat. ia mengambil langkah maju, mendekati kenjirou yang lagi-lagi membeku yang mana seharusnya menjauh pergi dari sang iblis. begitu dekat—jarak mereka hampir tidak berwujud hingga kenjirou sendiri bisa rasakan terpaan nafas eita kala lelaki itu memiringkan kepalanya untuk berbisik tepat di telinga,
“kamu anak dari salah satu malaikat utama, ya? then let me tell you this,” suara eita berubah drastis buat kenjirou merinding, “malaikat, iblis, kita semua sama. all of us can be friends, but with you, i feel like we could be more.“
“ma-maksudmu?”
“kita bisa jadi sepasang kekasih, mungkin?”
aku pikir eita hanya bercanda pada saat itu. tetapi ternyata tidak, karena tanpa sadar setelah itu kami jadi lebih sering bertemu di tempat yang sama, dan entah berapa waktu terlewat, kami jadi menyandang status pujaan hati satu sama lain.
tangan eita naik, mencubit perlahan pipi kenjirou yang memekik marah tidak terima tiba-tiba dicubit padahal sedari tadi tangan mengelus helaian rambut abu seperti apa yang lelaki itu inginkan.
mereka berdua menghabiskan waktu bersama layak biasanya. eita yang tidur di paha kenjirou, menatap langit cerah yang lumayan sama keadannya bagai hari pertama mereka bertemu. masih secara egoisnya berbagi kehangatan dan kebahagiaan,
namun tidak sadar akan kedatangan beberapa malaikat yang menatap mereka jijik— “shirabu kenjirou!” teriakan sang ibunda yang menyadarkan, kenjirou panik sedangkan eita tenang walaupun dalam mata tersirat benci bercampur sedikit amarah.
mereka menangkap kami. kami sempat memberontak, namun apa daya? kekuatanku dan eita tidak cukup untuk melawan para malaikat utama, sehingga kami pun berhasil dipisahkan dengan diriku yang diasingkan dan eita yang dipatahkan sayapnya. hanya saja tepat sebelum itu terjadi,
“ei—eita! jangan- jangan, aku mohon! tol-tolong lepaskan—” teriakan kenjirou tercekat kala tangisan penuhi rongga serta pikiran, badan tidak berhenti meminta dilepaskan untuk bisa bersatu kembali dengan sang kasih.
melihat itu, eita semakin memberontak, walau tidak berteriak. salah satu tangan dijulurkan—mencoba menggenggam tangan kenjirou untuk (mungkin) terakhir kalinya. sedikit, sedikit lagi. sekuat tenaga meraih namun gagal menyedihkan. eita diseret menjauh, dan kenjirou hanya bisa melihat sambil menangis pilu,
“ken—kenjirou!” eita berteriak sebelum benar-benar keluar dari gerbang surga, “i'll find you, in the next life, atau bahkan ribuan kehidupan selanjutnya, i don't care when as long as i can be with you again, ini sumpahku.”
dan jauh di dalam hati, aku pun bersumpah akan hal yang sama.