two souls with two minds

kalau di dalam hubungan, butuh dua orang. dua kepala. dua batin. dua hati. tapi satu jalan. satu perasaan. itu, hal umum bukan?

tapi mengapa sunwoo tidak bisa mengerti, haknyeon capek melihat pacarnya itu— atau jangan jangan sunwoo paham namun pura pura tidak mengerti dan malah biarkan hubungan mereka berubah abu. diatas ambang ingin lepaskan hanya saja masih sayang dan ingin pertahankan tapi rasanya terlalu sakit.

hela nafas berat. bahkan ketika jam sudah berdetak bersama dengan angka 12, sunwoo masih belum pulang. kepala haknyeon terkulai lemas di meja penuh dengan makanan yang ia masak untuk dinner. pun mata tidak henti melihat kearah jendela menanti cahaya mobil menyelinap masuk, telinga juga bersiap mendengar pintu terdorong serta kalimat,

‘aku pulang, haknyeon.’

ah. rindu. kala sunwoo tidak pernah ucap kalimat itu lagi belakangan ini— entah lelaki itu terlalu capek untuk ucapkan, atau memang hati sudah malas tidak ingin ingatkan haknyeon akan kehadiran sang pacar.

dan benar, sunwoo datang satu jam kemudian hanya dengan suara pintu terbuka, kemudian sudah. tidak ada lagi. haknyeon senyum miris tetapi tetap menyambut pacarnya, dimana sunwoo terkejut melihat dirinya. apa mungkin karena haknyeon bukanlah seseorang yang bisa bergadang? mungkin.

“welcome home, sunwoo! ganti baju dulu ya? baru habis itu makan, aku masak makanan favoritmu,” nada haknyeon ceria dengan mata sedikit memerah menahan tangis. jemari bantu sunwoo melepaskan jaket denim walau hati seperti dihancurkan ketika aroma lavender masuk ke penciumannya— itu bukan bau parfumnya, ataupun parfum sunwoo. berarti.. parfum milik orang lain. dan aromanya benar benar melekat ke tubuh sunwoo.

“tidak, tadi sudah makan.”

secara tidak sadar air matanya menetes, haknyeon langsung berpaling sebentar— tidak terlihat juga toh sunwoo sudah jalan duluan meninggalkan.

cukup. rasanya, sakit. sangat sakit. sesak. benar-benar sesak. tidak bisa nafas. gila, haknyeon sudah gila. tiba tiba tahan tangan sunwoo, jemari hampir mencengkram sangking takutnya.

“a-ayo bi-bicara. kita butuh bicara.” nafasnya masai buat suara gagap. apalagi dengan sunwoo yang tatap malas dengan rahang sedikit mengeras. peduli setan jika lelaki itu capek setelah jalan sedari tadi siang, haknyeon benar-benar ingin tau mereka sebenarnya apa sih sekarang.

berakhir dengan mereka duduk saling berhadap di ruang tamu. sunwoo yang santai tidak ada beban, haknyeon yang bergetar gugup.

“bicara apa? cepat, aku mau tidur.”

astaga. haknyeon tatap sang raja di hatinya nanar, bahkan suara yang dulu rasa hangat memeluk sekarang berubah dingin menusuk sanubari.

“aku cuma mau tanya.. kita apa?” sunwoo naikkan alisnya, bingung atas pertanyaan haknyeon. “maksudmu?” pun tidak beri jawaban.

“hubungan kita sekarang, masih pacaran? atau apa? aku butuh kejelasan, nu.”

“kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

tuh, kan. seharusnya haknyeon sudah tau ini akan terjadi. 2 tahun bersama sunwoo buat lelaki itu mudah ditebak, ia akan selalu membalikkan jawaban jika sedang berbohong, juga jika dirasa jawaban sebenarnya akan menyakitkan. haknyeon cukup tau.

“berhenti membalikkan pertanyaan. you know i know you well so stop— stop pretending. it pains me more.”

sunwoo hela nafas. kini tatapannya melembut, seperti penuh kasihan dan rasa bersalah. “i’m really sorry, haknyeon.”

sudah. semesta haknyeon hancur di depan mata tepat setelah sunwoo meminta maaf. tersenyum lebar, namun tangisan sudah tidak bisa dibendung. 5 menit kehampaan diisi isak tangis haknyeon dengan sunwoo yang menunduk, tidak mau melihat karena tau diri tidak akan kuat— tangan saja sudah mengepal menahan agar tidak ikut menangis.

“da-dari kapan—?” haknyeon bertanya. persetan, menyakiti diri sendiri. toh juga harus tau. kalau harus pergi, setidaknya harus ada alasan jelas dibalik kepergiannya.

“2 bulan yang lalu. saat ada training keluar kota. namanya chanhee,” sunwoo tatap langsung haknyeon, “hak, again, i’m sorry.”

selesai. haknyeon lepaskan sunwoo setelah lelaki itu mengaku. sebenarnya salah apa sih, dirinya? sampai diduakan oleh pujaan hati. kurang apa? ataukah memang haknyeon tidak pantas dicinta? sudahlah. kepalanya benar benar berasa ingin pecah.

“gak apa-apa. terimakasih, sunwoo.”

tentu adalah hal yang umum bagi dua kepala, dua pikiran, dua hati yang harus berjalan dengan searah saat tenggelam dalam rasa suka. namun ketika salah satu berpaling, pun yang lain hancur—

bagai kaleidoskop yang pecah berubah menjadi candramawa.