i'm here. (part one)
karena terbangun dengan tenang, hyunjae malah merasa aneh. tadi, sama sekali tidak ada mimpi. kosong. benar-benar hanya tidur tanpa mimpi. entah kenapa malah membuat hati gelisah.
“tidur lagi, hyunjae.”
hyunjae kaget. badannya terlonjak. siapa? siapa itu? kepala ditoleh kesana kemari ketakutan, lalu tangkap figur tinggi diujung kamar berdiri melihati. figur itu.. familiar. tunggu dulu, hyunjae perhatikan benar-benar.
astaga. itu juyeon, lelaki yang tempati mimpi belakangan ini. sontak hyunjae meringkuk takut, badannya bergetar. ini, mimpi kan ya? tidak mungkin sang pangeran iblis ada di rumahnya.
“bukan mimpi.” pikiran dibaca, “sudahlah, tidur lagi sana. masih jam 2 pagi.” juyeon berkata tegas, tapi sorot matanya lembut. malah tambah buat hyunjae tremor. ia geleng-geleng kuat tidak mau mematuhi perkataan juyeon. tangan mencengkram selimut sampai keatas bahu sebagai bentuk pertahanan.
“k-kenapa.. kenapa kesini..?” suara kecil, bahkan untuk bertanya saja hyunjae hampir tidak sanggup. sudah mau menangis. kenapa semua ini terjadi padanya? ia hanya ingin hidup tenang tanpa ada masalah apapun. cukup cukup ditinggalkan oleh keluarga, malah ditambah dengan diganggu oleh iblis.
juyeon terkekeh, “karena aku ingin melihat soulmate-ku, apa itu salah?”
“SALAH! gue bahkan gatau kenapa lo gangguin gue! dan kita bukan soulmate!” sontak hyunjae berteriak, entah darimana keberaniannya. mendengar itu juyeon hanya terdiam. malah dekati hyunjae yang langsung menyesal berteriak, bibir berbisik 'jangan kemari' berulang kali. toh juga juyeon tidak peduli. berakhir duduk di ujung kasur hyunjae.
terlihat bahwa rahang juyeon sedikit mengeras. tanda lelaki itu marah. “hyunjae.” yang dipanggil tetap meringkuk tidak mau merespon. “lee hyunjae, kemari.” kedua kali, dan disitu hyunjae tau harus mengikuti kata sang pangeran. perlahan hyunjae bergeser, duduk tepat disamping juyeon dengan posisi kedua kaki ditekuk sampai dada.
”... ma-maaf. tapi aku tidak percaya semua ini..” karena terlalu takut akan dibunuh, (padahal juyeon tidak akan pernah bisa lakukan itu) hyunjae ubah tata bahasanya mengikuti juyeon. “beri tau aku, juyeon. kenapa harus aku? apa yang kamu mau dari ingatanku?” untuk pertama kalinya, hyunjae panggil langsung nama juyeon dan bertatap mata.
itu sukses membuat juyeon agak kaget, tidak percaya bisa mendengar namanya dipanggil lagi oleh hyunjae. ia menghela nafas pelan. menahan keinginan untuk menarik hyunjae ke pelukannya, mau bagaimanapun juyeon rindu. sangat rindu.
“karena kita sudah terikat puluhan tahun lalu. kamu milikku dan sebaliknya begitu. aku hanya berusaha membuatmu ingat tentang dirimu sendiri, tentang diriku, tentang kita. dengan begitu kutukannya akan berakhir.”
hyunjae mengernyit. masih tidak paham. kepalanya pusing, sangat pusing. karena ini masih jam 2 pagi, sangat jelas jika otaknya sedikit tidak bekerja.
“kutukan apa?”
juyeon tersenyum, mungkin bahagia bahwa hyunjae mulai bertanya tentang mereka. tangannya tanpa sadar naik, usap rambut hyunjae. tubuh hyunjae langsung berjengit. kaget. tapi tidak menghindar. lihat itu juyeon tambah senyum. hyunjae sudah tidak sebegitu takutnya lagi.
“ceritanya panjang, hyunjae yakin bisa tahan dengarkan? ini sudah larut loh.”
“bisa.”