come back home

tidak, tidak bisa berpikir kecurigaan tidak akan terjadi. semi langsung berdiri dari kursi, membuat atsumu yang sedari tadi bersama dengannya di studio menaikkan alis bingung. ada gumaman dengan pertanyaan dituju pada lelaki rambut abu, “bang? lo kenapa?”

tetapi tidak dijawab. malah semi tidak buang waktu, berlari keluar dari studio serta gedung kerja yang mana atsumu meneriaki namanya atas rasa heran. sekarang mana peduli mau kena marah sang bos atau sang artis, bahkan jika kena pecat juga silahkan saja, yang ada di pikiran semi hanyalah shirabu.

sial, ini semua terlalu terasa familiar hingga semi bisa cicipi mual yang mulai berhinggap. walaupun perbedaannya kali ini, tidak akan ada kata telat. semi yakin bisa menyelamatkan soulmate-nya itu.

“kenjirou!” semi berteriak kala shirabu ada dalam pandangan, lantas sang kasih yang sedang ingin menyebrang kaget dan tidak sadar akan mobil meluncur dengan cepat dari belakang—

brak

tubuh mereka berdua terpelanting jauh, terseret diatas kasarnya jalanan malam itu. jika saja semi telat sedetik perihal mendorong tubuh shirabu menjauh dari mobil, yang lebih muda akan kehilangan hidupnya sekali lagi di tanggal serta jam yang sama seperti 2 bulan yang lalu.

semi meringis. perlahan mengangkat tubuh sedikit gemetar akibat siku berdarah menahan tubuh shirabu agar tidak terkena aspal—ah, iya. shirabu. yang lebih tua langsung menoleh, mendapati sang cinta tidak sadarkan diri.

panik, rasa takut kembali kuasai semi. air mata bergenang tetapi sebelum jatuh, semi arahkan tangan untuk cek detak jantung shirabu. helaan nafas lega kabur dari belah bibir kala masih terasa detak jantungnya—shirabu hanya pingsan karena kepala terbentur aspal.

akhirnya semi pun berjalan pulang sambil menggendong shirabu ala bridal style walaupun awalnya harus dibantu oleh beberapa orang sekitar akibat siku yang masih berdarah, tetapi ya—yang terpenting sekarang hanyalah,

semi berhasil menyelamatkan dan mempertahankan shirabu disampingnya.