AGWYB
hyunjae menangis. keras. tangis pilu kembali jadi hiasan malam itu. kenapa, kenapa bisa? hati sakit kala kata-kata berumur sebulan lalu berputar terus menerus di kepala. sakit. perih. seakan tidak ada jalan keluar, tidak ada cahaya diujung terowongan.
setiap hari seperti ini.
bulan dan bintang kalau bisapun akan meringis kasihan, memeluk tubuh ringkih hyunjae yang bergetar dibawah penderitaan. menghapus jejak air mata yang tidak pernah hilang. mendekap kuat agar hangat rasuki raga lagi.
sayangnya tidak bisa. hyunjae paham sangat hanya ada satu orang,
satu orang saja.
bisa tenangkan seluruh kecemasan, kesakitan, segala rasa di hati. lalu bagaimana hyunjae bisa tenang ketika orang itu lah yang melangkah pergi?
seakan hyunjae tidak pernah jadi rumah bagi orang itu, padahal orang itu telah jadi semesta baginya.
ataukah hyunjae pernah? pernah jadi rumah—coret itu, singgahan—di singgasana hati milik orang itu?
lucu sekali. hyunjae tertawa di sela tangisan. pikirannya bahkan tidak bisa mengucap nama orang itu. bebannya, terlalu menusuk lidah. pun ada keinginan untuk mengucap.
mau bagaimanapun, nama orang itu masih berada dalam ranking atas di list ‘kata yang paling hyunjae suka untuk didengar.’ bukan yang pertama sih, karena yang pertama adalah dia panggil namanya. ‘hyunjae.’ seperti itu.
ah. rindu sekali. tapi kalau dipikir-pikir, kenapa dia pergi?
hyunjae hentikan tangis. sebentar saja. nafas tersendat di tenggorokan. paksa pikiran ingat kembali apa yang terjadi sebulan lalu.
“hyunjae, aku akan kembali.”
sinting. kebohongannya. itu pertama kali orang itu berbohong, dan kala terakhirnya pula. karena mau bagaimanapun,
orang itu tidak akan pulang.
tidak akan lagi ada di depan hyunjae, tersenyum teduh sebelum menariknya kedalam pelukan. tidak ada lagi ciuman lembut melukis saat bulan sibuk menari. tidak ada lagi gelak tawa berbagi pada raga masing-masing.
tidak akan.
tangis kembali lagi datang tanpa diundang. hyunjae stress. ingin semua berakhir.
“juyeon, aku ingin kamu pulang. ingin kamu kembali,” hyunjae mengais nafas gemetar, memaksa tubuh berdiri dengan kaki dinaikan ke pagar balkon,
“tapi biarkan aku yang pulang padamu.”
dan jatuh.